
Bumiku Hitam......
Bumiku bersembunyi dibalik senyum
Hitam jiwa dan palung manusia
Hutanku tercoreng
Sawahku terisolasi
Lautku Terdiam
Alamku tersiksa
Mereka menghilang
Tapi ingin bangkit kembali...
Banjir... Siapa yang tertawa ?
Pemanasan global..... Siapa yang bahagia ?
Dirimukah ?
Kini raga bumi terkoyak
Menembus dan membendung inti bumi
Matahari menawarkan terik panasnya
Untuk jutaan miliaran atom dan dentum dunia kita
Bumiku....
Masih dapatkah kau mendengar ?
Masih dapatkah kau berkata ?
Gaung ragamu tenggelam
Telah sirna suryanya
Bumiku....
Dapatkah manusia dapat menjauhkanmu dari resah ini ?
Apakah manusia dapat menghidupkanmu kembali ?
Mari kita selamatkan bumi dari kebutaan rayuan hati
Ibu PertiwiAlam diam, kita diam
Kita keras, alam juga keras
Kisah ini, kisah dari tanah di bawah pelangi
Ibuku menari
Melambaikan sutra anginnya
Menyapa dengan sentuhan lembut melalui jemari hangat Ibu
Menguraikan rambut panjangnya
Menggelitik rerumputan dan ilalang
Ibuku tersenyum
Memancar liar aura damainya
Menambah kesyaduhan lantunan warna alam
Ibuku terbaring diatas kasur ilalangnya
Tidur dengan kecantikan surgawi
Melengkapi kesempurnaan alam
Dipeluk angin yang membalut lelapnya
Tak rela aku jika Ibu tidak nyaman lagi tidurnya
Mimpinya bukan saja kelam
Tapi tak bernyawa
Ingin aku jaga supaya ia terlelap dan selalu damao
Tapi sebentar…
Kisah ini, kisah dari tanah jelaga
Kala Ibu bangun,
Tanah kering, embun hitam jatuh diatasnya
Ibu menangis, menetes air matanya kawan !
Namun, air matanya tak lagi bening
Bagai darah mengalir di pipi Ibu
Daun – daun jatuh berguguran dihembus angin berdebu dan bau
Melewati ilalang kering yang mulai patah, terinjak oleh kaki – kaki biadab
Kau tau ?
Ibuku meninggalkan sutra anginnya
Ibuku tak lagi tersenyum hangat
Ia tersungkur, kakinya tak dapat berpijak lagi
Ibu menjadi lemah, menangis, meraung – raung kesakitan
Karena ilalangnya mati
Kawan !
Tak salahkah kita ?
Ini kisah dari tanah hampa dibawah pijakan kaki seorang manusia
Manusia keparat
Manusia yang tak tau apa yang mereka perbuat
Manusia yang hanya menginginkan kepuasan
Cuma debu – debu sisa untuk bernafas
Panas biadab menjadi suhu penentu hidup dan mati
Saksi bisu, ilalang mati, dan Ibu kesakitan
Free Template Blogger
collection template
Hot Deals
SEO